TENTANG KAIN WIRON
Java Summer Camp mengajariku banyak hal yang berkaitan dengan budaya, salah satunya belajar miru jarik. Miru jarik adalah istilah orang jawa untuk menyebut proses mewiru jarik. Mewiru atau melipat-lipat kain dengan pola lipatan menyerupai kipas. Kami yang terbagi menjadi beberapa kelompok mempunyai tugas untuk praktek miru. Dulu aku pernah belajar tapi mungkin belum sempurna. Bersyukur banget di JSC aku bisa belajar lebih detail tentang ini karna ada instruktur profesional. Nah temen-temen ini dia kisah selengkapnya tentang kain wiron.
Kain wiron
adalah kain batik yang salah satu ujungnya di wiru atau dilipat-lipat seperti
kipas. Biasanya dipakai sebagai setelan dari kebaya. Walaupun juga bisa dipakai
tanpa kebaya, tapi hanya dengan kemben. Wiru berjumlah ganjil 3, 5, 7, 9
dan seterusnya. Lebar wiru untuk perempuan adalah sekitar 2 cm. Semakin
banyak jumlah wirunya, maka akan semakin kelihatan indah waktu dipakai.
Tapi otomatis juga memerlukan lebih banyak waktu pada waktu membuat wirunya.
Selain itu kain wiron dengan jumlah wiru yang banyak juga hanya bisa
dipakai oleh mereka yang berbadan langsing.
Tentang wiru
ini ada juga yang kebiasaan membuat sampai mencapai 1/3 dari panjang kain.
Maksudnya supaya kalau dipakai akan terlihat bekas lipatan-lipatan wirunya.
Karena sebagian wiru akan dibuka dan dililitkan ke kaki. Sehingga akan nampak
indah. Wiru bisa dibedakan menjadi gaya Jogya dan Solo. Pada wiru gaya Jogya,
pinggiran batik yang disebut tumpal tidak dilipat ke dalam tapi diperlihatkan
atau dilipat keluar. Sedang tumpal batik pada wiru gaya Solo dilipat kedalam
dan tidak diperlihatkan. Baru sesudah itu lipatan-lipatan selanjutnya akan
sama, yaitu kearah luar.
Pada waktu mau
memakai kain, kaki terlebih dahulu harus mengenakan sandal jinjit. Maksudnya
supaya nanti ujung kain sebelah bawah jatuhnya bisa pas. Tidak terlalu tinggi
atau terlalu rendah. Kain wiron dipakai dengan cara melilitkannya ke kaki
dari kiri ke kanan. Pada waktu mulai melilitkan kain wiron ada 2 versi dari
posisi kaki. Pertama, sebelah kaki yaitu kiri atau kanan agak maju kedepan.
Versi yang lain mengatakan kalau kedua kaki harus disilangkan dan
merapat.
Kemudian kain
dipegang dengan membentuk segitiga meruncing keatas hinggga ujung bawahnya
dalam posisi yang lebih tinggi dari sisa kain yang akan diilitkan. Ujung bawah
kain dijepit diantara kedua kaki. Kemudian kain baru dililitkan ke kaki. Kain
diatur agar meruncing kebawah dan sebagai akibatnya akan melebar dan kendor
dipinggang. Untuk itulah kain kita ikat erat-erat dengan tali dipinggang supaya
nanti lama-lama tidak kedodoran. Setelah terlebih dahulu merapikan kainnya. Ujung
luar yang berwiron diatur supaya jatuh di sebelah depan agak ke kanan kira-kira
sekitar dua jari dari titik pusar. Apabila masih tidak tepat, maka kain bisa
digeser atau diulangi lagi dari awalnya yaitu dari ujung kain yang tidak
berwiru yang dibentuk segitiga.
Hal ini
dimaksudkan supaya waktu berjalan, kain wiron tidak tertarik terlalu ke
belakang. Dengan demikian sewaktu berhenti dari keadaan berjalanpun kain wiron
tidak akan terlalu tersingkap ke belakang atau kedodoran, tapi masih
tetap rapi dengan posisi masih menutup. Wiru hanya akan terbuka waktu berjalan.
Cara berjalan pada waktu memakai kain adalah melangkah dengan pendek-pendek
supaya kain tidak cepat kendor atau kedodoran disamping wirunya tidak cepat
rusak. Selanjutnya kain bisa ditutup dengan kemben atau korset atau long torso.
Sesudah itu barulah kebaya dikenakan.
Komentar
Posting Komentar