MBLUSUK LURUNG
Kotagede memang kota tua nya Jogja. Mengingat sejarah bahwa dulunya cikal bakal berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta ya di Kotagede ini. Saat Pemanahan memenangkan sayembara menumpas Arya Penangsang, beliau diberi hadiah alas mentaok lalu membangunnya menjadi kota yang makmur seperti yang kita tahu, Kotagede saat ini. Blusukanku kali ini spesial “lurung kotagede”. Lurung dalam bahasa indonesia berarti gang. Titik awalku dimulai dari between two gate, kompleks rumah joglo yang diapit oleh dua gerbang. Melewati gerbang timur menuju arah selatan hingga aku menemui bekas reruntuhan tembok Mataram. Masih saja mblusuk dan spot selanjutnya adalah Bokong semar dan makam nyai melati yang dulu pernah dipercaya sebagai salah satu tempat mencari wangsit.
Matahari mulai terik tapi
semangatku tak berkurang sedikitpun. Tetap melanjutkan gowes bersama teman yang
juga pribumi Kotagede, sebut dia Yuda. Dia yang menemani aku mblusuk Kotagede.
Sebagai tuan rumah, dia sangat hafal medan. Aku pun mulai cerewet meminta
banyak request. Yang aku cari adalah bangunan kuno, rumah joglo, situs
bersejarah dan yang paling penting melewati lorong-lorong sempit itulah sensasi
jelajah kota kipo ini.
Keringat mulai bercucuran tanpa
henti. Perjalanan masih panjang. Dan akhirnya aku menemukan banyak joglo yang
tetap eksis tak terusik moderenisasi. Salah satunya Joglo UGM yang dikelola
Universitas Gajah Mada sebagai langkah konservasi bangunan tradisional
khususnya joglo.
Suasana damai dan semilir angin
ditemani suara burung tekukur dan ayam jago memberikan suasana hati yang nyaman
dan tentram. Duduk di pendopo berasa di rumah sendiri.

Komentar
Posting Komentar